TAFSIR AYAT KURSI

From      : Nadirsyah Hosen
Subject   : Tafsir Ayat Kursi

Sumber    : http://www.unhas.ac.id/rhiza/arsip/tarbiyah2/tarb-98/tar-1014.htm


Ayat al-Kursi adalah ayat yang paling agung dalam al-Qur'an. Sekian banyak riwayat yang bersumber dari Rasul dan sahabat-sahabat beliau yang menginformasikan hakekat ini. Antara lain dari seorang sahabat Nabi yang bernama Ubaiy bin Ka'ab yang menceritakan bahwa Nabi saw pernah bertanya kepadanya:

"Ayat apakah dalam Al-Qur'an yang paling agung?"
"Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu" (ini diulang-ulang oleh Ubaiy),
kemudian ia berkata ayat al-Kursi. Rasul saw, membenarkan Ubaiy
(Diriwayatkan oleh Muslim)

Ubaiy juga  menguraikan dalam kesempatan lain, bahwa ia pernah bertemum dengan jin dan bertanya kepadanya, apakah bacaan yang dapat menjauhkan manusia dari gangguan jin, sang jin menjawab, "Ayat al-Kursi". Ketika  informasi ini dismapaikan Ubaiy kepada Rasul, beliau menjawab, "benar  (informasi) si jahat itu". (Diriwayatkan oleh al-Hakim)

Kasus yang mirip dialamai oleh sahabat Nabi yang lain yaitu  Abu Hurairah, ketika diperintahkan Nabi saw. menjaga kurma  sedekah. Ayat al-Kursi dinamai juga ayatul hifz (ayat pemelihara),  karena pembaca yang menghayati maknanya dapat memperoleh
perlindungan Allah swt...... Dalam konteks ini paling tidak ada dua hal yang dapat
dikemukakan.

Pertama, ayat ini berbicara tentang Allah swt. dan sifat-sifat-Nya.  Kandungan uraiannya saja sudah  cukup menjadikan ayat ini ayat yang  agung. Apalagi ayat al-Kursi merupakan  satu-satunya ayat yang  dalam redaksinya ditemukan tujuh belas kali kata yang menunjuk  kepada Allah swt. Enam belas diantaranya terbaca dengan jelas dan  satu tersirat. Perhatikanlah terjemahan di bawah ini:

"Allah (1) Tidak ada Tuhan yang berhak disembah
melainkan Dia (2) Yang Maha Hidup (3) Kekal, (Tuhan)
Tuhan yang terus menerus mengurus (4) (makhluk-Nya).
Dia (5) tidak mengantuk dan tidak tidur.
Kepunyaan-Nya (6) apa yang ada di langit dan apa yang
ada di bumi; Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi
Allah (7) tanpa izin-Nya (8). Allah (9) mengetahui
apa-apa yang dihadapan mereka dan dibelakang mereka,
dan mereka tidak mengetahui sesuatu dari ilmu Allah
(10), melainkan apa yang dikehendaki-nya (11).
Kursi (pengetahuan/kekuasaan)-Nya (12) meliputi
langit dan bumi. Allah (13) tidak merasa berat
memelihara keduanya dan Allah (14) Maha Tinggi (15)
lagi Maha Besar (16)

Yang menunjuk kepada Allah tetapi tersirat adalah
kalimat "hifzuhumaa, karena patron kata semacam ini
menyiratkan kalimat "laa yauuduhu an yahfazahumaa huwa"
(tidak lelah Dia memelihara keduanya), sehingga 
kata "Dia" yang nampak dalam terjemahan di atas,
pada hakekatnya tersirat dalam redaksi "Hifzuhumaa".

Ayat al-Kursi--demikian pula al-Mu'awwizatain dipilih
untuk dibaca-- baik dalam konteks tahlil, maupun bukan,
karena ayat-ayat tersebut mengandung makna perlindungan,
serta kewajaran Allah untuk dimohonkan kepada-Nya
perlindungan, baik bagi yang masih hidup maupun yang telah
berpulang.

Hal kedua yang dapat dikemukakan dalam konteks pemahaman
rasional adalah hal yang berkaitan dengan kandungan pesan
ayat ini. Apabila yang membaca  ayat al-Kursi menghayati
maknanya dan hadir dalam jiwa dan benaknya kebesaran Allah
yang dilukiskan oleh kandungan ayat ini,
maka pastilah jiwanya akan dipenuhi pula oleh ketenangan....

"Allahu laa ilaaha illa huwa (Allah tiada Tuhan selain Dia).
Allah adalah Tuhan yang menguasai hidup mati makhluk, yang
hanya kepada-Nyasaja tertuju segala pengabdian.....

Boleh jadi ketika itu, terlintas di dalam benak si pembaca,
bisikan Iblis yang berkata bahwa yang dimohonkan  pertolongan
dan perlindungannya itu, dahulu pernah ada, tetapi kini telah
"mati", maka penggalan ayat berikutnya, meyakinkannya tentang
kekeliruan dugaan tersebut, yakni dengan sifat "al-Hayyu"
(yang Maha Hidup dengan kehidupan yang kekal).

Boleh jadi Iblis datang lagi dengan membawa keraguan
dengan berkata:"Memang Dia hidup kekal, tetapi Dia tidak
pusing dengan urusan manusia, apalagi si "pemohon".
Kali ini penggalan ayat berikut menampik kebohongan
ini dengan firman-Nya "al-Qayyum" (yang terus menerus
mengurus mahkluk-Nya), dan untuk lebih meyakinkan 
dilanjutkannya uraian sifat Allah itu dengan
menyatakan: "laa ta'khuzuhu sinatun wa laa nauwm"
(Dia tidak disentuh oleh kantuk atau tidur) sehingga
Dia terus menerus dalam keadaan jaga dan siaga.
Dengan penjelasan ini hilang keraguan yang dilemparkan iblis itu.

Setelah itu boleh jadi iblis datang lagi dengan
membisikkan bahwa: "Dia tidak kuasa menjangkau tempat
di mana si pemohon berada, atau kalaupun Dia sanggup,
jangan sampai Dia "disogok" oleh yang bermaksud membinasakan
si pemohon, maka untuk menampik bisikan jahat ini, penggalan
ayat berikut tampil dengan gamblang menyatakan
"lahuu maa fis-samawati wa maa fil ardhi (Milik-Nya apa
yang ada di langit dan di bumi serta keduanya berada di
bawah kekuasaan-Nya).

Tidak hanya itu, tetapi ini berlanjut dengan firman-Nya:
"man zallazi yasyfa'u 'indahu illa biiznihii" (Tiada yang
dapat memberi syafaat di sisi Allah kecuali seizin-Nya)
dalam arti tidak ada lagi yang dapat melakukan sesuatu
tanpa izin-Nya. Dia demikian perkasa sehingga berbicara
dihadapan-Nya pun harus setelah memperoleh restu-Nya,
bahkan apa yang disampaikan harus  sesuatu yang hak dan
benar. Karena itu jangan menduga akan ada permintaan yang
bertentangan dengan keadilan dan kebenaran.

Kini boleh jadi iblis belum putus asa meragukan pembaca ayat ini.
Ia berkata lagi: "Musuh anda mempunyai rencana yang demikian rinci
sehingga tidak diketahui Tuhan." Lanjutan ayat al-Kursi menampik
bisikan ini : "Ya'lamu maa baina aidiihim wa maaa khalfahum"
(Dia mengetahui apa-apa yang dihadapan mereka dan di belakang
mereka). Yakni Allah mengetahui apa yang mereka lakukan dan
rencanakan baik yang berkaitan dengan  masa kini dan datang
maupun masa lampau, dan juga "wa laa yuhbithuuna bisya'i-in
min 'ilmihi illa bimaasyaa-a". (Mereka tidak  mengetahui
sedikitpun dari ilmu Tuhan melainkan  apa yang dikehendaki
Tuhan untuk mereka ketahui)

Ini berarti bahwa apa yang direncanakan Tuhan tidak dapat mereka
ketahui kecuali apa yang disampaikan Tuhan kepada mereka....
Untuk lebih menyakinkan lagi dinyatakan-Nya: "wasi'a kursiyuhus
samawati wal ardhi (kekuasaan dan ilmu-Nya mencakup langit dan
bumi) bahkan alam raya seluruhnya.

Kini sekali lagi, boleh jadi iblis datang dengan godaan barunya.
"Kalau demikian terlalu luas kekuasaan Tuhan dan terlalu banyak
jangkauan urusan-Nya, Dia pasti letih dan bosan mengurus semua itu".
Penggalan ayat berikut sekaligus penutupnya menampik  keraguan ini,
dengan firman-Nya "Laa yauuduhuu hifzuhuma wa huwal 'aliyyul 'azhim"
(Allah tidak merasa berat memelihara keduanya dan Allah Maha Tinggi
lagi Maha Agung).

Demikian ayat al-Kursi menanamkan dalam jiwa pembacanya kebesaran
dan kekuasaan, serta kemampuan Allah swt. memelihara dan melindungi
siapa yang tulus bermohon kepada-Nya.

(Disarikan oleh Nadirsyah Hosen dari M. Quraish Shihab, "Hidangan Ilahi:
Ayat-ayat Tahlil", Lentera Hati, Jakarta, 1996, h. 110-118)






Pengasihan, Pelet Dan Daya Tarik Lawan Jenis. Tambah Cantik Dan Awet Muda Melengketkan Pacar Dan Menarik Rezeki (Mudah Tagih Hutang) Berwibawa Dan Berkharisma Tinggi (Di Segani Kawan/Lawan) Mengunci Suami/Pacar Agar Tidak Selingkuh Mengharmoniskan Keluarga Memisahkan Wil Menghilangkan Sangkal Jodoh (Cepat Dapat Jodoh Yang Idial) Pelarisan Usah/Mendatangkan Keberuntungan Jauh Dari Sial Dan Apes/Usaha Lancar Dan Berkah Percaya Diri Tinggi/Mudah Mendapat Kepercayaan Bisa Menundukan Atasan/Bawahan

http://sembogo.blogspot.com/Melayani Macam-Macam Susuk, Susuk Kecantikan, Susuk Pellet, Susuk Pemikat, Susuk Vagina, Susuk Payudara, Susuk Pengeretan, Susuk Kantil, Susuk Cair, Susuk Emas